LUK(IS)A(N) SUTARDJI
Ada tradisi yang menarik dalam kepenyairan Indonesia modern. Yaitu, tradisi untuk membebaskan diri dari ‘tradisi’ lama penyair sebelumnya. Pada periode 1930-an, tradisi pendobrakan ini sudah dimulai sejak Sutan Takdir Alisyahbana dkk di berupaya keras membebaskan dirinya dari apa yang mereka golongkan sebagai puisi lama (pantun, mantera, dll). Pada periode 1940-an, muncul pula Chairil Anwar dkk yang menjelajahi kemungkinan-kemungkinan baru demi suatu penemuan bahasa ucap yang baru. Begitulah seterusnya para penyair Indonesia pun mewarisi suatu semangat penjelajahan dan pendobrakan dari tradisi kepenyairan sebelumnya.
Apresiasi terhadap tradisi itupula yang mempengaruhi saya ketika sedang membaca kepenyairan seseorang. Dan itupula yang memukau saya ketika membaca kepenyairan salah seorang penyair yang menonjol di era 1970-an. Penyair itu bernama Sutardji Calzoum Bachri, dan menurut saya, sekali membaca sajak-sajaknya, kita akan sulit melupakan corak bahasa ucapnya. Ia mendobrak jauh sekali dari bahasa ucap penyair-penyair dari periode sebelumnya. Dan hal itu tentu dikarenakan sejak awal ia menyadari bahwa hanya seseorang yang menemukan bahasalah yang akan disebut sebagai penyair. Dan untuk itulah tulisan ini mencoba menguak bahasa seperti apa yang ia temukan dalam penjelajahannya. Lebih penting lagi, saya akan mencoba menguak kedalaman makna apa yang bisa digali dari penemuan bahasa ucapnya.
Penjelajahan Bahasa Sutardji
Sutardji Calzoum Bachri dilahirkan di Rengat, Riau, 24 Juni 1941. Setelah lulus SMA, ia melanjutkan studinya ke Fakultas Sosial Politik, Jurusan Administrasi Negara, Universitas Padjajaran, Bandung. Disana, ia mulai menulis dalam surat kabar dan mingguan, kemudian sajak-sajaknya dimuat pula dalam majalah Horizon dan Budaya Jaya serta ruang kebudayaan Sinar Harapan dan Berita Buana. Sajak-sajak yang ditulisnya pada tahun 1970-an itu merupakan pendobrakan bahasa ucap puisi modern Indonesia. Ia melangkah lebih jauh dari Chairil Anwar dan terus menjelajah rimba bahasa. Ia menyadari penuh perlunya penjelajahan demi penemuan bahasa ini. Ia pernah menulis bahwa ‘mereka yang tidak menemukan pengucapan, mereka yang tidak menemukan bahasa, tidak bakal disebut penyair’. Namun, bukan berarti eksperimentasi bahasa menjadi tujuan akhir, karena ia juga menambahkan bahwa ‘pada kedalaman makna ucapannya, seorang penyair yang telah menemukan bahasa menjadi lengkap sempurna kepenyairannya’ (Sutardji Calzoum Bachri, 2001: 4-5). Sehingga jelaslah bahwa penemuan bahasa adalah demi kedalaman makna ucapan. Dengan keyakinan seperti itulah ia mengayunkan kapaknya, menebang dahan demi dahan, menyibak ranting demi ranting menuju kedalaman makna rimba bahasa.
Di tengah rimba bahasa, Sutardji menemukan suatu panggilan untuk kembali pada bahasa ucap nenek moyang bangsanya. Kedalaman makna justru didapatkannya pada bahasa nenek moyangnya, yaitu, mantera. Penemuan ini dikukuhkannya dalam penutup suatu kredo yang ditulisnya sendiri di Bandung, tanggal 30 Maret 1973: Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.(SCB, 2002: 5). Sejak itu makin mantaplah kertas-kertasnya menggumamkan mantera seorang manusia modern bernama Sutardji itu. Dengan kekuatan mantera, ia bertekad membebaskan kata-kata dari bebannya sebagai pengantar atau penyampai pengertian. Ia mengumpamakannya dengan kursi. Menurutnya, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam (Ibid: 4). Sebagai penyair, ia mengaku melakukan pembebasan kata demi mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Sajak-sajak Sutadji Calzoum Bachri tentu saja mendapatkan perhatian yang luas dan mendalam. Salah satu perhatian yang paling menarik dan jeli datang dari Sapardi Djoko Darmono yang mengaku bahwa puisi yang dikembangkan oleh Sutardji pada awal tahun 1970-an itu adalah unik. Dalam catatan Kelisanan Dan Keberaksaraan: Kasus Puisi Mutakhir, Sapardi Djoko Darmono menulis bahwa di satu pihak sajak seperti “Ah”, “Tragedi Winka dan Sihka”, dan “Q” mempertaruhkan keberadaannya sepenuhnya pada tata letak kata dalam tradisi cetak, di pihak lain oleh Sutradji “gambar” itu ditawarkannya sebagai mantera, yang secara konvensional menyandarkan keberadaanya pada anasir bunyi kelisanan (Sapardi Djoko Darmono, 1999: 217). Tapi sayangnya, Sapardi Djoko Darmono dalam catatannya itu terlalu terburu-buru menyebutkan bahwa tata letak kata dan aksara dalam sajak-sajak Sutadji Calzoum Bachri menunjukkan tidak terjadinya keterlibatan emosional dalam proses penciptaannya dan menunjukkan penguasaan penuh si penyair terhadap kata-kata yang dipilihnya.
Menurut saya, sesungguhnya pengalaman membaca sajak-sajak Sutadji Calzoum Bachri akan membawa kita pada suatu keterlibatan emosional yang mistis, antara penyair dan pembacanya. Itulah salah satu kekuatan seorang Sutardji. Dan dengan cara membaca seperti itu pulalah kita akan terbawa dalam suatu ekstase serupa sebagaimana yang dirasakan oleh sang penyair kita itu. Marilah kita coba masuki sajak “Ah” yang agung itu. Kita akan merasakannya, ketika kita mendapati suatu pilihan kata-kata dan seruan yang lahir dari pengaruh emosional memenuhi mata dan telinga kita: rasa yang dalam!/datang Kau padaku/aku telah mengecup luka…(O Amuk Kapak, 2002: 6) . Dalam sajak “Ah” itu kita memasuki suatu pengalaman mistis, baik ketika membacanya maupun ketika mendengarnya. Susunan tipografinya akan membawa mata kita pada suatu lukisan yang memabukkan dan bunyi lisannya akan merasuki telinga kita bagaikan suara mengaduh seeorang yang terluka dalam. Seperti itu pulalah “Tragedi Winka dan Sihka” dan “Q” dan sajak-sajak Sutadji Calzoum Bachri sebaiknya dibaca. Yaitu sebagai lukisan luka dari seorang penyair. “Tragedi Winka dan Sihka” merupakan suatu lukisan mengenai perjalanan berakhir luka, dari kawin hingga berujung pada kasih yang kaku. Sajak “Q” bisa dibaca sebagai suatu lukisan yang menggambarkan terbatasnya aksara untuk merintihkan luka.
Luka memang menonjol dalam sajak-sajak Sutardji Calzoum Bachri. Dalam sajak “Mari” ia mengajak pembaca: mari pecahkan botolbotolambil lukanya/jadikan bunga. Dalam “Sepisaupi” ia menulis ’sepisau luka sepisau duri’ sejak baris pertama di bait pertamanya. Menariknya, Sutardji tidak hanya menampilkan suatu kesan luka yang melulu pedih dan perih, seakan-akan luka hanya membawa tragedi di atas muka bumi ini. Ada kalanya ia justru ia menulis sajak yang menghadirkan kesan komedi mengenai luka tadi. Dalam salah satu sajak berjudul “Luka” yang dibuatnya tahun 1976, lengkapnya ia menulis:
LUKA
ha ha
(O AMUK KAPAK, 2002: 78)
Mengenai luka yang kerap muncul dalam sajak-sajaknya, kiranya Sutardji sudah menjelaskannya secara tidak langsung ketika ia mengutip perkataan orang Spanyol: El poeta habla de la boca de la herida, penyair bicara dari mulut luka (SCB, 2001:22). Hal ini tidak mengherankan kita, sebab penyair memang ditantang untuk menghadirkan suatu keharuan. Alasannya, timbulnya keharuan sudah lama dianggap sebagai ukuran keindahan suatu sajak. Sajak dan tiap hasil seni harus sanggup memindahkan haru asli dari pada penyair/seniman, baik rasa duka maupun haru keindahan saja, begitu tulis penyair Sitor Situmorang dalam eseinya yang berjudul Tentang Sajak Dan Penyair (Sitor Situmorang, 2004:31). Maka tak mengherankan pula apabila para pembaca pun juga sering mengejar keharuan ketika membaca suatu sajak.
Belajar Membaca Luk(is)a(n) Sutardji
Keharuan yang indah, itulah yang kiranya dapat kita temui pada beberapa sajak Sutardji Calzoum Bachri. Maka lukisan luka yang kita temui dalam sajak-sajaknya pun sungguh membawa kita pada suatu keharuan yang indah, suatu tragedi. Suatu luk(is)a(n) yang digoreskan melalui mantera, itulah kedalaman makna yang dicapai oleh seorang manusia yang biasa dipanggil Tardji itu. Membaca sajak-sajaknya adalah suatu pengalaman menuju suatu tanah mistis. Sajak-sajaknya adalah lukisan luka yang membawa kita pada suatu pencapaian ekstase. Hal ini mungkin kedengaran terlalu mengada-ngada. Tapi untuk lebih memahami mengenai lukisan luka ini, ada baiknya kita mencoba belajar membaca sajak-sajak Sutardji melalui salah satu sajak, yang menurut saya, merupakan karya puncaknya, yaitu “Belajar Membaca”. Sajak yang ditulis tahun 1979 itu lengkapnya berbunyi:
BELAJAR MEMBACA
kakiku luka
luka kakiku
kakikau lukakah
lukakah kakikau
kalau kakikau luka
lukakukah kakikau
kakiku luka
lukakaukah kakiku
kalau lukaku lukakau
kakiku kakikaukah
kakikaukah kakiku
kakiku luka kaku
kalau lukaku lukakau
lukakakukakiku lukakakukakikaukah
lukakakukakikaukah lukakakukakiku
1979
(dikutip dari O AMUK KAPAK, 2002: 109)
Sajak “Belajar Membaca” bukanlah sekedar mantera. Ia bukan pula sekedar permainan bunyi, bukan sekedar menata kesejajaran atau kontras antara konsonan l dan k serta cokal a, i, dan u. Ia juga bukan sekedar kombinasi kata luka, kaku, kaki, kau, aku, kalau, dan akhiran kah hanya demi membentuk dunia bunyi dan makna yang unik. Ia juga bukan sekedar menyarankan semacam keinginan untuk berbagi pengalaman dalam luka, dalam penderitaan. Sajak “Belajar Membaca” adalah suatu luk(is)a(n) yang menyeru-nyeru panggilan mistis. Panggilan ini membangkitkan kembali suatu gambaran mengenai paling purba dari ritual pemujaan dewa kemabukan dan mimpi. Sajak ini merupakan salah satu puncak karya seorang manusia yang digentayangi oleh ilusi mimpi dan kemabukan sekaligus, digentayangi oleh dewa Dionysus, sang musik dan dewa kemabukan, dan Apollo, sang dewa citra ilusi atau mimpi. Cobalah baca sajak “Belajar Membaca”, pandanglah dan sekaligus lisankan, maka kita akan mendapati suatu rupa yang sedap dipandang sekaligus bunyi yang sedap didengar. Luar biasa.
Sejak Friedrich Nietzsche menuliskan Lahirnya Tragedi, maka kita pun memandang kualitas seorang penyair melalui bagaimana ia mengungkapkan tragedi dengan menggunakan mata dan telinga sekaligus. Artinya, seorang penyair haruslah dilihat sebagaimana seorang pemahat dan pemusik sekaligus. Ia haruslah dipandang sebagai sosok yang memahat kata-kata di atas kertas dengan rupa indah dan sekaligus sebagai sosok yang melisankan kata-kata itu dengan bunyi-bunyi yang enak dan merdu didengar. Hal ini diperlukan kepekaan mimpi, sebab ‘di dalam mimpilah pemahat ulung pertama kali melihat tubuh-tubuh makhluk adi manusia yang menyenangkan’. (Nietzsche, 2002: 22). Dalam kasus sajak “Belajar Membaca”, maka rupa aduhai yang ditimbulkan dari keselarasan penyusunan vokal, konsonan, kata, hingga liriknya adalah suatu pahatan yang sukar diciptakan kecuali didukung melalui suatu pencitraan mimpi. Begitu pula bunyi yang ditimbulkannya pun betul-betul mengantarkan keselarasan canggih yang membawa kita pada suatu keharuan. Aih, bukankah keharuan adalah suatu mitos tragis yang selalu kita cari pada setiap puisi itu? Kalau begitu, luka dalam sajak Sutardji dapatlah disebut sebagai upaya menghadirkan tragedi. Dan lukisan tipografi dan efek bunyi yang dikejar Sutardji bolehlah disebut sebagai upaya mengejar keindahan. Sehingga lengkaplah ia mendapatkan keharuan dan keindahan sekaligus.
Mungkin kelengkapan antara keindahan dan keharuan itu memuaskannya. Tapi, betulkah? Saya sendiri tidak berani memastikan bahwa ia betul-betul puas dengan pencapaian sajak-sajaknya. Banyak hal bisa terjadi pada seorang manusia. Mungkin saja suatu pengalaman baru bisa membuatnya sembuh dari lukanya. Sepertinya, cuma itulah yang dapat saya katakan, bahwa ia kelihatannya sudah melupakan luka. Pada tahun 1989, ia menulis sajak yang begitu panjang, judulnya “Berdepan-Depan dengan Ka’bah, yang sepenggal kata-katanya berbunyi: Alhamdulillah, sakit, engkau mengakrabkan aku/padaNya.Terima kasih Usia, engkau telah/mengantarkan. Dulu bisu batu sajakku. Kini engkau di/dekat Hajar Aswad ini telah mendedahkan rahasia./Cahaya, Cahaya, Cahaya! (Harry Aveling, 2003: 169-170).
Kelihatannya, sejak itu ia lebih memilih menggumamkan doa, daripada manteranya.
T.D. Ginting, alamat emailnya bung_tomy@yahoo.com
Bahan Bacaan:
Friedrich Nietzsche, LAHIRNYA TRAGEDI (terj.Saut Pasaribu), Yogyakarta: Penerbit Bentang Budaya, 2002
Harry Aveling, RAHASIA MEMBUTUHKAN KATA: Puisi Indonesia 1966-1998, Magelang: Indonesia Tera, 2003
Sapardi Djoko Darmono, SIHIR RENDRA: PERMAINAN MAKNA, Jakarta: Penerbit Pustaka Firdaus, 1999
Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK, Jakarta: Yayasan Indonesia dan Majalah Horison, 2002
Sutardji Calzoum Bachri, GELAK ESAI DAN OMBAK SAJAK 2001, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2001
Sitor Situmorang, SASTRA REVOLUSIONER, Yogyakarta: Penerbit Mahatari, 2004
